Self-Diagnose terhadap Kesehatan Mental

 “Aku punya bipolar!”

“Setiap malam aku menangis dan bersedih, sepertinya aku menderita anxiety.”

“Aku bolak-balik mengecek apakah pintu sudah terkunci atau belum, mungkinkah aku menderita OCD?”

“Jangan berani macam-macam! Aku ini psikopat! Aku baru saja tes di website ini.”

Ungkapan-ungkapan tersebut sering ditemui di internet maupun kehidupan nyata. Di era kemajuan teknologi ini, segalanya dapat diakses dengan mudah –  mulai dari tutorial, resep makanan, hingga informasi tentang penyakit, baik fisik maupun mental. Namun, kali ini mari fokus ke mental dulu. Self-diagnose – adalah upaya untuk mendiagnosis diri sendiri berdasarkan informasi yang didapatkan secara mandiri, bisa saja dari internet, keluarga/kerabat, atau pengalaman di masa lalu. Padahal diagnosis seperti itu hanya boleh dilakukan oleh tenaga medis profesional karena prosesnya yang panjang dan rumit. Jika melakukan self-diagnose, ditakutkan diagnosis atau penanganan yang dilakukan seseorang tidak sesuai dengan diagnosis asli.

Hanya karena memiliki nama-nama yang keren, para remaja sering mendiagnosa diri mereka sendiri sedang menderita penyakit mental. Sebagai contoh, sekitar beberapa tahun lalu, muncul sebuah cerita fiksi dalam “Creepypasta” dengan tokoh utama seorang psikopat bernama Jeff the Killer. Kebanyakan remaja yang membaca cerita tersebut mendiagnosa diri mereka sendiri sebagai psikopat hanya karena beberapa sifat mereka sama dengan sifat tokoh utama. Belum lama yang lalu, banyak remaja yang mendiagnosa diri mereka sendiri menderita anxiety hanya karena nama “anxiety” yang kedengaran keren. Ada juga yang merasa mereka menderita depresi karena mendapat beberapa tugas sekolah. Atau bahkan, ada yang mengaku-ngaku menderita bipolar karena merasa mood-nya tiba-tiba berubah. Dua tahun lalu ketika muncul film Joker juga banyak yang tiba-tiba bilang bahwa mereka adalah sosok psikopat. 

Berdasarkan hasil survei dari Millennial Mindset: The Worried Well pada tahun 2014, 37% responden Gen Y, terkadang melakukan Self-Diagnosis terkait masalah kesehatan mental yang sebenarnya tidak mereka miliki. 

Kesehatan mental itu perlu dijaga. Ketika mental kalian waras, maka itulah yang patut kalian banggakan. Bukannya malah dengan bangga memiliki sebuah penyakit mental – kadang belum tentu benar pula diagnosanya karena mereka melakukan self-diagnose. Tapi begini, bukan berarti kalian yang memang adalah seorang penderita harus berkecil hati, kalian bisa membanggakan hal itu, karena kalian memang memilikinya – tidak seperti mereka yang self diagnose, belum tentu benar-benar punya, eh, sudah dibanggakan saja. Jadi, kumohon bagi kalian sahabat-sahabat penderita, mohon tetaplah semangat dan percaya diri, oke?

Kami akan tetap menerima kalian dengan sepenuh hati terlepas dari hal yang kalian miliki tersebut. Buatlah hal tersebut menjadi kelebihan kalian, tunjukkanlah pada mereka, atau kami, bahwa kalian lebih daripada yang kami lihat dengan mata telanjang. Kalian itu kuat. Kalian itu hebat. Semua itu ada pada diri kalian bukan karena suatu alasan. Kalian pasti bisa melakukan sesuatu hal yang kami tidak bisa lakukan. Percayalah saja pada diri kalian.

Memiliki penyakit mental itu tidak ada keren-kerennya. Mungkin para remaja di luar sana banyak yang menganggap itu keren, tetapi berbeda dengan mereka yang benar-benar menderitanya. Para penderita di luar sana tidak bisa menganggap semua itu hal yang keren, banyak yang membutuhkan perawatan dan rehabilitasi, bahkan ada yang sampai tidak bisa menjalani kehidupan normal. Jadi, jika kalian merasakan sesuatu, segeralah datang ke psikolog atau siapapun yang berwenang mengatasi hal semacam itu, jangan mendiagnosa diri kalian sendiri hanya agar terlihat keren.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Lakukanlah Sesukamu