Lakukanlah Sesukamu

Dengar, jika kalian datang ke sini untuk mendapatkan hal-hal yang seru, mengyasikkan, dan penuh adrenalin, kusarankan nih, tutup laman ini sekarang juga. Berbaliklah dan cari hal-hal seperti itu di tempat lain – di blog tetangga barangkali. Tidak ada hal seperti itu di sini. Atau mungkin kau bisa menjejalkan sekarung permen kopi ke dalam mulutmu untuk mendapatkan adrenalin yang kau inginkan.

Jika kau datang ke sini untuk mendengarkan sebuah ceramah tua dan membosankan dari seseorang, bagus, lanjutkan membaca. Aku iri pada kalian yang rela mengorbankan waktunya hanya untuk ceramah tua yang membosankan ini.

Oke, mari kita mulai dengan salam.

Assalamu’alaikum warrahmatullahi wabarakatuh, Om Swastiastu, Namo Buddhaya, Salam kebajikan, dan Salam sejahtera bagi kita semua.

Namaku Muhammad Ihsan Tanjung. Mahasiswa baru dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan dan prodi Manajemen Sumberdaya Perairain. Ngomong-ngomong, aku dari Cluster 37.

Sebentar, biar aku cek aku harus menulis apa untuk ini. Oh, iya, aku baru ingat. Aku diminta untuk menulis bagaimana caraku memahami, menerima, dan menyayangi diri sendiri.

Jujur saja, aku tidak tahu harus menulis apa. Maksudku, ini natural. Aku tidak perlu melakukan apa-apa pun, kurasa aku sudah menyayangi diriku. Tapi, hei, ini untuk penugasan, jadi aku tetap harus menulis sesuatu, bukan begitu?

Baiklah, baik. Mari kita mulai dari hal yang paling klise. Bersyukur. Iya, aturan pertama dari menerima, memahami, dan menyayangi diri sendiri adalah bersyukur. Manusia memang tidak ada puasnya, sih. Pasti ada sesuatu yang selalu terasa kurang. Biasanya dengan menuruti kemauannya – atau hal yang kurang – itulah para manusia baru merasa telah menyayangi diri sendiri, tapi ada hal lain yang lebih simpel, namun memang susah. Ya bersyukur itu tadi. Dengan bersyukur, segalanya akan terasa cukup – tidak ada yang kurang lagi. Kalian akan merasa bahwa tidak ada lagi yang kalian inginkan.  

Jadi, sudahkah kalian bersyukut hari ini?

Eh, lupakan, quote itu benar-benar terdengar klise.

Mari kita beralih ke hal selanjutnya. Ummm, apa ya? Oh, cari hal yang kalian sukai -- cari minat kalian. Aku yakin dengan mencari dan melakukan hal yang kalian suka, kalian akan merasa lebih cinta pada diri sendiri. Karena ketika kita melakukan hal yang kita sukai, maka otak akan mengeluarkan sebuah zat kimia, yakni hormon dopamine. Sedikit informasi nih, dopamine disebut juga hormon bahagia – penyebutan tersebut tentu saja bukan tanpa alasan. Ketika dopamine dikeluarkan, maka akan tercipta sebuah rasa bahagia. Dengan rasa bahagia yang muncul tersebut pasti kalian akan merasa lebih bisa menerima dan menyayangi diri sendiri.

Hal terakhir yang bisa dilakukan untuk menerima, memahami, dan menyayangi diri sendiri adalah tidak mendengarkan perkataan orang lain. Ketika kalian telah menemukan suatu hal yang kalian suka, lalu melakukannya, aku yakin akan nada pro-kontra dari orang-orang terdekat. Baik itu teman, sahabat, keluarga, kerabat, atau bahkan orang tua kalian sendiri. Mereka akan mulai mencari-cari kekurangan dari hal yang kalian suka serta lakukan itu – meyakinkan kalian untuk tidak melakukannya lagi. Mungkin kalian bisa menyanggah kata-kata mereka dengan menyuarakan segala hal positif dari kegiatan yang kalian sukai tersebut, tapi itu akan percuma. Percayalah padaku. Hal yang bisa kalian lakukan di saat seperti itu adalah cobalah untuk tidak mendengarkan mereka. Untuk sekali ini saja, kumohon, berpura-puralah tuli.

Yah, sepertinya tiga poin itu cukup, karena seperti yang kubilang sebelumya aku bingung ingin menulis apa. Aku hanya menulis apa saja yang tiba-tiba keluar di otakku. Sebenarnya aku masih punya satu poin lagi yang biasa kulakukan untuk menyayangi diri sendiri, tapi anggap saja ini teknik rahasiaku – biarkan aku saja yang memakai ini. Haha. Ngomong-ngomong terima kasih telah mampir di tulisanku yang membosankan ini. Sampai jumpa lagi!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Self-Diagnose terhadap Kesehatan Mental